Tampilkan postingan dengan label Tragedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2011

Mengenai Kompleks Gedung World Trade Center




World Trade Center, Maret 2001 - Mengenal Kompleks Gedung World Trade Center (WTC) - www.simbya.blogspot.com
World Trade Center, Maret 2001
World Trade Center di New York City itu telah menjadi korban serangan brutal dan tak berperikemanusiaan pada tanggal 11 September 2001. Dan kini hanya tinggal kenangan saja tentang sebuah gedung pencakar langit yang pernah menjadi gedung tertinggi di dunia.

Simbya kali ini akan membahas gedung-gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Sebagai penghormatan kepada Gedung WTC, kita mulai serial pencakar langit ini dengan membahas World Trade Center di New York City (secara informal kadang disebut WTC atau Menara Kembar). World Trade Center adalah suatu kompleks gedung yang terdiri dari tujuh bangunan, sebagian besar didesain oleh arsitek Jepang-Amerika, Minoru Yamasaki dan dibangun oleh Port Authority of New York and New Jersey. Pembangunannya dirintis oleh Lower Manhattan Association yang didirikan dan diketuai oleh David Rockefeller, dengan dukungan kuat dari saudaranya, Nelson Rockefeller, yang kelak menjadi gubernur New York.



Denah Komplek World Trade Center sebelum pengeboman - Mengenal Kompleks Gedung World Trade Center (WTC) - www.simbya.blogspot.com
Denah Komplek World Trade Center
sebelum pengeboman.
Kompleks yang berlokasi di jantung pusat distrik finansial New York City ini memiliki 1.24 juta m² ruang perkantoran, hampir empat persen dari keseluruhan luas ruang perkantoran yang tersedia di Manhattan. World Trade Center yang dikenal dengan Menara Kembar 110 lantainya ini mengalami kebakaran pada 13 Februari 1975 dan serangan bom pada 26 Februari 1993. Ketujuh bangunan asli kompleks hancur pada Serangan 11 September 2001: WTC 1,WTC 2 (Menara Utara dan Selatan), WTC 3(Hotel Marriott) hancur karena runtuhnya WTC 1 dan WTC 2; sedangkan WTC 4, WTC 5, dan WTC 6 mengalami kerusakan yang tak dapat diperbaiki hingga akhirnya terpaksa dihancurkan, dan WTC 7 yang akhirnya hancur juga dengan mencurigakan..





World Trade Center Lama



World Trade Center 1 (Menara Utara)


World Trade center 1 atau Menara Utara selesai dan dibuka pada tahun 1972 dengan ketinggian 417 m ( 1.368 kaki), dan memiliki antena telekomunikasi di atapnya dengan ketinggian 360 kaki. Alamat bangunan ini World Trade Center 1 dengan Kode Pos 10048. Bangunan ini hancur bersama dengan Menara Selatan pada Serangan 11 September 2001.Menara Utara adalah menara pertama yang ditabrak pesawat pada pukul 08:46 dan menara kedua runtuh pada 10:28. Tidak ada seorang pun selamat di lantai 92.

Pada lantai 106 dan 107 dari bangunan ini adalah sebuah restoran yang terkenal yang disebut Windows on the world. Karena radiasi dari radio dan TV transmisi, bagian atap hanya bisa diakses oleh staf tertentu.


World Trade Center 2 (Menara Selatan)


World Trade Center 2 atau Menara Selatan selesai dan dibuka tahun 1973 dengan ketinggian 415 meter ( 1.362 kaki) , dibedakan dari Menara utara oleh dek observasi dan tidak adanya antena televisi. Alamat bangunan ini World Trade Center 2 dengan Kode Pos 10048. Menara ini hancur bersama dengan Menara Utara (World Trade Center 1) pada Serangan 11 September 2001. Menara Selatan adalah menara kedua yang ditabrak pesawat dan menara pertama yang runtuh.

Di lantai 107 gedung ini merupakan atraksi wisata yang populer disebut Top of the World Trade Center Observatories. Atap Menara Selatan adalah dek pengamatan yang dapat diakses oleh publik dan helipad yang berada di tengah atap.


World Trade Center 3 (Hotel Marriot World Trade Center)


World Trade Center 3 atau Marriott World Trade Center adalah bangunan hotel berlantai 22 dengan 825 kamar. Dibuka pada tahun 1981 sebagai International Vista dan terletak di Komplek World Trade Center di New York City. Vista adalah nama merek di mana hotel Hilton International dioperasikan di Amerika Serikat selama periode berjalan ketika mereka adalah perusahaan terpisah dari Hilton Hotels Corporation. Vista Hotel adalah hotel pertama yang dibuka di Lower Manhattan sejak 1836. Bangunan ini dirancang oleh Skidmore, Owings & Merrill dan awalnya dimiliki oleh Port Authority of New York dan New Jersey. Bangunan ini dijual pada tahun 1995 kepada Host Marriott Corporation setelah Gubernur George Pataki di New York dan Christine Todd Whitman New Jersey ditekan pejabat Port Authority untuk menjual aset yang kurang menguntungkan.

Hotel ini terhubung ke Menara Utara dan Menara Selatan dan banyak orang melalui hotel untuk menuju ke Twin Towers. Hotel ini memiliki beberapa perusahaan termasuk Greenhouse Cafe, Tall Ships Bar & Grill, Times Square Gift, The Rusia House Restaurant dan Grayline New York tours bus ticket counter, sebuah gym dan sebuah salon rambut bernama Olga. Hotel ini juga memiliki 26.000 kaki persegi (2.400 m2) ruang pertemuan, dan dianggap sebuah hotel empat-berlian oleh AAA.


World Trade Center 4


World Trade Center 4 adalah bangunan kantor rendah berlantai 9 di sudut tenggara Komplek World Trade Center di Lower Manhattan, New York City. Bangunan ini rusak sebagai akibat dari Serangan 11 September 2001 dan kemudian dihancurkan.

Penyewa utama bangunan ini adalah Deutsche Bank ( Lantai 4, 5 , dan 6) dan New York Board of Trade (Lantai 7,8, dan 9).


World Trade Center 5


World Trade Center 5 adalah bangunan rendah berlantai 9. dibangun pada tahun 1970-1972 di World Trade Center New York. Bangunan ini mengalami kerusakan parah dan keruntuhan parsial pada lantai atas sebagai akibat dari Serangan 11 September 2001. Seluruh bangunan dihancurkan pada bulan Januari 2002 sebagai bagian dari proyek penghapusan World Trade Center.

WTC 5 adalah sebuah gedung perkantoran berbingkai baja. Struktur bangunan ini berbentuk " L " dan menempati sudut timur laut dari komplek World Trade Center. Secara keseluruhan dimensi adalah 330 dengan 420 ft (100 dengan 130 m ), dengan luas rata-rata sebesar 120.000 kaki persegi ( 11.000 m² ) per lantai.


World Trade Center 6 (US Customs House)


World Trade Center 6 atau US Customs House bangunan berlantai 8 dengan luas 537.693 kaki persegi ( ² 49.953 m ) terletak di Komplek World Trade Center di Lower Manhattan, New York City. Konstruksi bangunan ini selesai pada tahun 1975. Bangunan ini hancur pada 11 September 2001 karena runtuhnya World Trade Center 1 dan World Trade Center 2.

Puing dari Menara Utara jatuh di sekitar WTC 6, dan menggali kawah jauh ke ruang bawah tanah gedung. Reruntuhan bangunan ini dihancurkan untuk membuat jalan bagi rekonstruksi. AMEC Konstruksi menangani pembongkaran, di mana bangunan itu melemah dan kemudian menarik turun dengan kabel. Tidak ada jelas nangunan World Trade Center 6 di masterplan World Trade Center yang baru, meskipun baik 99 Church Street Tower atau Goldman Sachs mungkin dinamai WTC 6 di masa depan.


World Trade Center 7


World Trade Center 7 adalah sebuah gedung berlantai 48 yang dirancang oleh Emery Roth and Sons dengan warna merah granit fasad. Bangunan ini memiliki ketinggian 610 kaki (186 m), dengan tanah trapesium dengan panjang 330 ft (101 m) dan lebar 140 kaki (43 m ). Pada bulan Maret 1987, gedung dibuka dan menjadi struktur ketujuh World Trade Center. Sebuah jalan ditinggikan menghubungkan bangunan kepada World Trade Center plaza. Bangunan ini terletak di atas gardu listrik Consolidated Edison ( Con Ed ). Ketika gedung dibuka pada tahun 1987, Silverstein mengalami kesulitan menarik penyewa. Pada tahun 1988, Salomon Brothers menandatangani sewa jangka panjang dan menjadi penyewa utama gedung. Pada tanggal 11 September 2001, World Trade Center 7 rusak karena puing ketika Menara Utara runtuh. puing juga tersulut api, yang terus membakar sepanjang sore itu di lantai bawah bangunan dan bangunan runtuh pada pukul 05:21:10. Keruntuhan dimulai ketika kolom kritis di lantai 13 tertekuk dan memicu kerusakan struktur keseluruhan. ***



Sumber: http://simbya.blogspot.com/2011/05/mengenal-kompleks-gedung-world-trade.html#fji1312683228541

Sabtu, 11 Juni 2011

Pembunuhan Abraham Lincoln dan John F. Kennedy

 Detik-detik pembunuhan JFK
 Abraham Lincoln
 Pembunuhan Abraham Lincoln
John F. Kennedy


Kehidupan 

  • Kedua presiden telah 7 huruf dalam nama terakhir mereka. 
  • Keduanya lebih dari 6 meter. 
  • Kedua pria belajar hukum. 
  • Keduanya tampaknya memiliki otot mata malas, yang kadang-kadang akan menyebabkan seseorang menyimpang. 
  • Keduanya menderita penyakit genetik. Hal ini diduga bahwa Lincoln memiliki penyakit Marfan's, dan Kennedy menderita penyakit Addison. 
  • Keduanya bertugas di militer. Lincoln adalah seorang kapten pramuka di Black Hawk Perang, dan Kennedy menjabat sebagai letnan angkatan laut dalam Perang Dunia II. 
  • Keduanya kapten kapal. Lincoln adalah seorang nakhoda untuk Talisman, sebuah perahu Sungai Mississippi, dan Kennedy skipper dari PT 109. 
  • Keduanya tidak takut kematian dan pengawal direndahkan. 
  • Kedua sering menyatakan betapa mudahnya akan untuk menembak presiden. Lincoln seharusnya berkata, "Jika seseorang ingin mengambil hidup saya, tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mencegahnya." Kennedy konon berkata "Jika seseorang ingin menembak saya dari jendela dengan senapan, tak seorang pun bisa menghentikannya." Perhatikan bahwa tanda kutip kedua masing-masing 16 kata-kata panjang. 


Kematian 

  • Kedua presiden ditembak di kepala, pada hari Jumat. 
  • Keduanya duduk di samping istri-istri mereka ketika ditembak. Baik Lincoln Mrs atau Mrs Kennedy terluka. Kedua istri memegang kepala peluru-robek dari suami mereka. 
  • Dalam setiap kasus, orang itu terluka tapi tidak fatal. Mayor Henry Rathbone digorok oleh pisau, dan Gubernur John Connolly ditembak. 
  • Lincoln duduk di Kotak 7 di Ford's Theatre. Kennedy melaju di dalam mobil 7 dalam iring-iringan Dallas. 
  • Lincoln ditembak di Ford's Theatre. Kennedy tertembak di produk Ford, sebuah limusin Lincoln. 
  • Mrs Kennedy bersikeras bahwa pemakaman suaminya cermin Lincoln sedekat mungkin. 


The Assassins 

  • Kedua pembunuh menggunakan tiga nama: John Wilkes Booth dan Lee Harvey Oswald. (Perlu dicatat bahwa Lee Harvey Oswald dikenal sebagai hanya Lee Oswald sebelum pembunuhan itu.) 
  • Ada 15 huruf dalam setiap nama pembunuh. 
  • Kedua pembunuh memukul ketika dalam pertengahan dua puluhan mereka. Booth lahir tahun 1838, dan Oswald lahir tahun 1939. 
  • Setiap pembunuh tidak memiliki figur ayah yang kuat dalam hidupnya. Booth ayah meninggal ketika ia berusia 13 tahun, dan ayah Oswald meninggal sebelum ia lahir. 
  • pembunuh Masing-masing memiliki dua saudara laki-laki yang kariernya ia didambakan. Booth dua saudara laki-laki adalah aktor lebih sukses dan Oswald kehidupan militer iri saudara-saudaranya '.
  • Kedua pembunuh itu swasta di militer. Booth adalah seorang pribadi dalam Milisi Virginia, dan Oswald adalah seorang pribadi di Korps Marinir. 
  • Kedua pembunuh lahir di selatan. 
  • Kedua pembunuh dikenal simpatisan kepada musuh-musuh Amerika Serikat. Booth mendukung Konfederasi dan Oswald adalah seorang Marxis. 
  • Kedua pembunuh alias sering digunakan. Booth yang sering digunakan "J. Wilkes" dan Oswald menggunakan nama "Alek J. Hidell." 
  • Booth menembak Lincoln di sebuah teater dan terpojok di gudang. Oswald menembak Kennedy dari sebuah gudang dan terpojok di teater. 
  • Setiap pembunuh ditahan oleh petugas bernama Baker. Letnan Luther B. Baker adalah pemimpin dari patroli kavaleri yang terjebak Booth di Garrett's Barn. Petugas Marion L. Baker, seorang petugas patroli sepeda motor Dallas, sebentar Oswald ditahan di lantai kedua dari Buku Sekolah Penyimpanan sampai ia mengetahui bahwa ia bekerja di sana. 
  • Kedua pembunuh dibunuh dengan tembakan tunggal dari pistol Colt. 
  • Kedua pembunuh ditembak dalam nyala cahaya-Booth setelah gudang itu dibakar, dan Oswald dalam bentuk kamera televisi. 

Keluarga dan Teman 
  • Kedua presiden diberi nama setelah kakek mereka. 
  • Keduanya lahir anak kedua. 
  • Kedua sementara menikah pada usia tiga puluhan mereka. Lincoln menikah pada 33 dan Kennedy menikah pada 36. 
  • Keduanya berambut hitam menikah, dua puluh empat tahun perempuan. 
  • Kedua istri meninggal sekitar usia 64. Mary Todd Lincoln meninggal pada tahun 1882 pada usia 63 tahun dan 215 hari, dan Jackie Kennedy meninggal pada 1994 pada usia 64 tahun 295 hari. 
  • Kedua istri yang dikenal dengan mode yang tinggi di dalam pakaian. 
  • Kedua istri direnovasi Gedung Putih setelah bertahun-tahun diabaikan. 
  • Setiap pasangan memiliki empat anak, dua di antaranya meninggal sebelum menjadi remaja. 
  • Setiap pasangan kehilangan seorang putra sementara di Gedung Putih. Willie Lincoln meninggal pada usia 12 tahun 1862, dan putra Patrick Kennedy meninggal dua hari setelah kelahirannya pada tahun 1963
.
Politik


  • Kedua presiden terpilih untuk DPR di 46. 
  • Keduanya runner-up untuk nominasi partai untuk wakil-presiden di '56. 
  • Keduanya terpilih menjadi presiden pada tahun '60. 


Wakil-Presiden 

  • Demokrat Selatan bernama Johnson berhasil baik Lincoln dan Kennedy (Andrew Johnson dan Lyndon Baines Johnson. 
  • Andrew Johnson lahir tahun 1808, dan Lyndon Johnson lahir tahun 1908. 
  • Ada enam huruf dalam nama pertama setiap Johnson. 
  • Kedua Johnson bertugas di militer. Andrew adalah seorang brigadir jenderal dalam Perang Sipil dan Lyndon adalah seorang komandan di Angkatan Laut AS selama WW2. 
  • Kedua Johnson adalah mantan senator selatan. 
  • Kedua Johnson telah batu uretra, presiden hanya untuk memilikinya. 
  • Kedua Johnson memilih untuk tidak mencalonkan diri untuk dipilih kembali di '68.

Senin, 02 Mei 2011

Pembunuhan JFK

Pembunuhan John F. Kennedy, presiden ke-35 Amerika Serikat, terjadi pada hari Jumat, 22 November 1963 di Dallas, Texas pada pukul 12:30 Central Standard Time (18:30 UTC). Kennedy tewas akibat ditembak sementara berada di mobil bersama istrinya Jacqueline Bouvier Kennedy. Investigasi 10 bulan oleh Komisi Warren tahun 1963–1964, United States House Select Committee on Assassinations (HSCA) tahun 1976–1979, dan investigasi pemerintahan lainnya menyimpulkan bahwa Kennedy dibunuh oleh Lee Harvey Oswald. Kesimpulan ini didukung oleh publik tahun 1964–66, namun pemilihan diadakan setelah 1966 dan menunjukan 80% warga Amerika tidak mempercayainya.[1][2] Pembunuhan ini masih diperdebatkan dan menimbulkan beberapa teori konspirasi.

Sabtu, 30 April 2011

Perang Goth (535-554)

Perang Goth adalah peperangan yang berlangsung di Italia dan wilayah-wilayah di sekitarnya seperti Dalmatia, Sardinia, Sisilia, dan Korsika mulai tahun 535 sampa tahun 554 antara pasukan Kekaisaran Romawi Timur dan pasukan Kerajaan Ostrogoth. Secara umum, perang ini dibagi menjadi dua fase. Fase pertama (535-540) berakhir dengan jatuhnya Ravenna dan penaklukan Italia oleh pasukan Bizantium, sementara fase kedua (540/541-553) berciri perlawanan bangsa Goth yang dikobarkan kembali oleh Totila. Perlawanan tersebut baru bisa ditundukkan setelah peperangan panjang yang dilancarkan oleh Narses, yang juga berhasil menggagalkan invasi Franka-Alamanni pada tahun 554. Kendati demikian, kota-kota di Italia Utara masih melanjutkan perlawanan sampai awal tahun 560-an.

Perang ini diawali oleh ambisi Kaisar Justinianus untuk merebut kembali provinsi-provinsi wilayah Kekaisaran Romawi Barat yang lepas akibat invasi suku-suku barbar pada awal abad sebelumnya (lihat juga Masa Migrasi). Durasi peperangan yang cukup lama mengakibatkan kehancuran Italia dan penurunan populasi Italia dari 7 juta jiwa menjadi 2,5 juta jiwa sebagai akibat dari peperangan, kelaparan, dan wabah penyakit. Selain itu, kekayaan Kekaisaran Bizantium juga berkurang. Akibatnya, Bizantium tidak dapat bertahan dari serbuan bangsa Lombardia pada tahun 568, yang mengakibatkan lepasnya sebagian besar daerah Italia.

Jumat, 15 April 2011

Gajah Perang

Gajah perang adalah gajah yang digunakan untuk berperang dalam sejarah militer di banyak negara di dunia pada zaman dahulu. Kegunaan gajah perang adalah untuk kendaraan dalam perang serta untuk mematahkan barisan dan menginjak-injak musuh. Penggunaan gajah dalam perang pertama kali dilakukan di India, ketika gajah disediakan sebagai salah satu sayap dari empat sayap dalam militer India.
Penggunaan gajah perang kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan ke barat di daerah Mediterania. Pada masa Peradaban Hellenis, gajah digunakan oleh Diadokhoi untuk menangkis serangan kavaleri. Di barat, penggunaan gajah untuk perang yang paling terkenal adalah oleh Jenderal Pirros. Gajah perang dalam jumlah besar juga digunakan oleh pasukan Kartago, terutama di bawah kepemimpinan Hannibal.
Seiring perkembangan zaman, taktik perang yang semakin modern ikut menurunkan nilai ofensif gajah. Selain itu, gajah pun semakin sulit didapat. Penggunaan gajah dalam perang di India juga berakhir ketika meriam dipergunakan, gajah pun hanya digunakan sebagai tenaga pembantu.
Dalam semua perang yang memakai gajah, umumnya gajah jantan selalu digunakan karena sifatnya yang agresif.

Abad kuno
[sunting]India
Tidak ada bukti pasti mengenai kapan persisnya gajah perang mulai digunakan. Himne religius Weda India terawal. Rigweda, bertahun antara akhir milenium kedua dan awal milenium pertama SM, menyebutkan tentang penggunaan gajah sebagai kendaraan—tepatnya dewa Indra yang mengendarai gajah putihnya, Airawata—namun tidak disebutkan mengenai penggunaan gajah dalam perang, dan lebih berfokus pada peran Indra dalam memimpin pasukan berkuda.[5] Sementara dalam kisah Mahabharata, yang berasal dari sekitar abad kedelapan SM dalam bentuk terawalnya, dan Ramayana, yang berasal dari sekitar abad keempat SM,[6] menyebutkan adanya gajah perang, mengindikasikan awal penggunaan gajah dalam perang.[7] Raja-raja India kuno sangat memandang tinggi fungsi gajah perang. Beberapa raja bahkan berpendapat bahwa pasukan tanpa gajah sama lemahnya dengan hutan tanpa singa, kerajaan tanpa raja, keberanian tanpa senjata.[8]


Ilustrasi mengenai gajah perang yang menyerang pasukan Aleksander yang Agung dalam Pertempuran Sungai Hydaspes.


Gajah perang dalam Pertempuran Gaugamela.
[sunting]Persia
Dari India, penggunaan gajah dalam militer menyebar ke barat ke Kekaisaran Persia. Di sana gajah perang digunakan dalam beberapa kampanye militer dan pada gilirannya ikut memengaruhi kampanye militer Aleksander yang Agung. Konfrontasi pertama antara pasukan Aleksander dan gajah perang Persia terjadi pada Pertempuran Gaugamela (331 SM) saat Persia mengerahkan lima belas gajah perang.[9] Gajah-gajah tersebut ditempatkan di bagian tengah barisan Persia dan cukup membuat pasukan Makedonia terkejut, sampai-sampai Aleksander merasa harus memberi kurban pada Dewa Rasa Takut pada malam sebelum pertempuran. Namun menurut beberapa sumber, gajah-gajah itu tidak banyak terlibat dalam pertempuran karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan panjang menuju medan pertempuran.[10] Aleksander menang secara meyakinkan di Gaugamela, namun dia sangat terpukau pada gajah perang Persia. Dia pun kemudian mengambil lima belas gajah perang tersebut dan memasukkannya ke dalam pasukannya dan jumlah itu bertambah ketika Aleksander menaklukan sisa wilayah Persia.
[sunting]Aleksander yang Agung
Ketika Aleksander yang Agung memasuki daerah India, dia sudah memiliki pasukan gajah perang di bawah komandonya sendiri. Di India, Aleksander harus menghadapi pasukan Raja Porus, yang berkuasa di daerah Punjab di Pakistan modern. Raja Porus mengerahkan antara 85 sampai 100 gajah perang[11][12] pada Pertempuran Sungai Hydaspes. Aleksander melawan dengan hanya mengerahkan pasukan infantri dan kavalerinya, yang pada akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Porus, termasuk pasukan gajahnya, meskipun korban juga berjatuhan di pihak Aleksander. Aleksander terus melaju ke timur sampai dia mengetahui bahwa raja-raja di Kekaisaran Nanda dan Gangaridai mampu mengerahkan antara 3.000 sampai 6.000 gajah perang. Jumlah ini jauh lebih besar daripada pasukan gajah yang dimiliki oleh pasukan Yunani ataupun Persia. Menghadapi kekuatan sebesar ini, pasukan Aleksander, yang jauh lebih sedikit, akhirnya memilih untuk menghentikan pergerakan mereka di India.[13] Sepulangnya dari India, Aleksander membentuk suatu pasukan gajah untuk menjaga istananya di Babilonia, dan membuat pos elephantarch untuk memimpin unit gajahnya.[10]


Eleazar Makkabeus membunuh seekor gajah perang dan diinjak oleh gajah tersebut (ilustrasi pada naskah Speculum Humanae Salvationis).
[sunting]Diadokhoi
Penggunaan gajah dalam perang terus menyebar. Para penerus kekaisaran Aleksander, yaitu para Diadokhoi, menggunakan ratusan gajah India dalam perang mereka. Penggunaan gajah perang oleh Diadokhoi yang paling terkenal adalah oleh Kekaisaran Seleukos, yang memperoleh gajah perangnya dari India. Perang antara Kekaisaran Seleukos dengan Chandragupta Maurya (Sandrokottos), pendiri Kekaisaran Maurya, pada 305 SM berakhir dengan penyerahan wilayah timur Seleukos yang cukup luas, yang ditukar dengan 500 ekor gajah perang India.[14] Jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan keseluruhan pasukan gajah Maurya, yang disebut-sebut mencapai 9.000 ekor gajah perang.[15] Seleukos menggunakan gajah perang mereka pada Pertempuran Ipsos empat tahun kemudian. Kekaisaran Seleukos juga menggunakan gajah perang untuk menghentikan Pemberontakan Makabim di Judea. Ketika itu, gajah-gajah perang berhasil membuat para prajurit Yahudi, yang menggunakan senjata yang lebih sederhana, ketakutan. Eleazar Makkabeus, pria termuda di antara Hasmonean bersaudara, berhasil membunuh seekor gajah perang dalam Pertempuran Beth Zakaria. Dia menusuk perut sang gajah dengan tombaknya sebelum akhirnya dia mati tertindih oleh badan gajah tersebut. Dia menyerang gajah tersebut karena secara salah mengira bahwa gajah itu mengangkut Antiokhos V, raja Seleukos.[16] Meskipun dia keliru dan akhirnya mati, tindakannya menjadi terkenal.
[sunting]Mediterania
Bangsa Mesir dan Kartago juga menggunakan gajah untuk perang, seperti yang dilakukan oleh bangsa Numidia dan Kush. Jenis gajah yang digunakan adalah gajah hutan Afrika Utara (Loxodonta africana pharaohensis), yang kelak punah akibat eksploitasi yang berlebihan.[17] Gajah jenis ini berukuran lebih kecil dibandingkan gajah yang digunakan oleh Kekaisaran Seleukos di daerah timur Mediterania, khususnya gajah dari Suriah (Elephas maximus asurus) yang tingginya mencapai 2,5-3,5 meter (8–10 kaki) sampai ke pundak. Ada kemungkinan bahwa beberapa gajah Suriah diperdagangkan ke daerah-daerah di sekitarnya. Pendapat ini didukung oleh bukti yang menunjukkan bahwa gajah favorit Hannibal dinamai Surus (dari Suriah) dan kemungkinan berasal dari Suriah. Meskipun begitu, bukti ini tidak terlalu meyakinkan.[18]
Sejak akhir 1940-an, beberapa sejarawan berpendapat bahwa gajah hutan Afrika yang digunakan oleh Numidia, Kartago, dan Mesir tidak membawa rengga (tempat duduk) atau menara kecil di punggungnya dalam pertempuran, mungkin karena fisiknya yang tidak sekuat gajah Asia.[19] Beberapa referensi mengenai keberadaan rengga pada gajah perang Afrika hanyalah penggambaran puitis dan anakronistis, namun beberapa sumber lainnya juga tidak bisa begitu saja diabaikan. Ada kesaksian kontemporer yang secara jelas menyebutkan bahwa pasukan Juba I dari Numidia menggunakan gajah yang berengga pada 46 SM.[20] Pendapat ini dididukung oleh gambar gajah Afrika berengga pada koin Juba II.[21] Rengga juga diceritakan ada pada pasukan Ptolemaios dari Mesir. Polybius melaporkan bahwa dalam Pertempuran Raphia pada 217 SM, gajah-gajah perang milik Ptolemaios IV membawa rengga; gajah-gajah ini jauh lebih kecil daripada gajah Asia yang digunakan oleh Kekaisaran Seleukos dan kemungkinan juga gajah hutan Afrika.[22] Juga ada bukti bahwa gajah perang Kartago dilengkapi dengan rengga atau menara kecil untuk keperluan militer tertentu.[23].
Di daerah selatan, suku-suku tertentu memiliki akses terhadap gajah Sabana Afrika (Loxodonta africana oxyotis). Gajah jenis ini berukuran lebih besar dibandingkan gajah hutan Afrika atau gajah Asia, namun hewan ini sukar dijinakkan dan karena itu tidak banyak digunakan dalam perang. Ukuran tidak selalu menjadi faktor yang menentukan. Contohnya, gajah yang digunakan oleh Mesir dalam Pertempuran Raphia pada 217 SM lebih kecil daripada gajah Asia milik lawan mereka, Antiokhos III yang Agung dari Suriah. Namun, pada akhirnya pasukan Mesirlah yang berhasil menang. Beberapa gajah Asia diperdagangkan ke barat, tepatnya ke pasar Mediterania; Plinius Tua menyebutkan bahwa gajah Sri Lanka, misalnya, lebih besar, lebih galak, dan dengan demikian lebih baik dalam perang jika dibandingkan gajah lokal. Keunggulan ini, serta dekatnya pasokan ke pelabuhan, membuat gajah Sri Lanka menjadi komoditas perdagangan yang menguntungkan.[24]
Meskipun penggunaan gajah perang di Mediterania paling sering dihubungan dengan perang antara Kartago dan Romawi, namun gajah perang pertama kali diperkenalkan ke Mediterania oleh salah satu kerajaan di Yunani, yaitu Epiros. Raja Pirros dari Epiros membawa serta dua puluh ekor gajah untuk menyerang Romawi dalam Pertempuran Herakleia pada 280 SM. Dia meninggalkan lima puluh ekor gajah lainnya, yang dipinjam dari Firaun Ptolemaios II, di daratan utama Yunani. Ketika itu pasukan Romawi tidak siap menghadapi pasukan gajah dan pasukan Yunani sukses mengalahkan mereka. Setahun kemudian, Yunani kembali mengerahkan pasukan gajah untuk menghadapi Romawi dalam Pertempuran Asculum. Kali ini pasukan Romawi sudah bersiap-siap dengan menggunakan api serta senjata antigajah, yaitu kereta perang yang ditarik kerbau dan dilengkapi dengan tombak panjang untuk melukai gajah dan api untuk menakuti gajah serta dikawal oleh pasukan bersenjata tombak untuk mengusir gajah. Serangan terakhir gajah Yunani pada akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Romawi lagi. Namun, meskipun menang, Pirros menderita kerugian yang sangat besar, sampai-sampai dia berkata bahwa walaupun sekali lagi dia menang, pasukannya tetap akan dihancurkan oleh Romawi. Ungkapan ini kemudian terkenal sebagai istilah yang disebut Kemenangan Piris.


Pertempuran Zama oleh Henri-Paul Motte, 1890


Hannibals Elefanten auf Flößen (1890) oleh Henri Paul Motte, menggambarkan pasukan gajah Hannibal yang menyeberangi sungai dalam perjalanannya untuk menyerang Romawi.
[sunting]Kartago
Termotivasi oleh kehebatan gajah perang, Kartago pun mulai menggunakan gajah perang secara besar-besaran pada Perang Punisia Pertama. Namun, hasilnya kurang memuaskan. Dalam Pertempuran Adys pada 255 SM, gajah perang Kartago menjadi kurang efektif karena medannya kurang menguntungkan. Sedangkan dalam Pertempuran Panormus pada 251 SM, pasukan Romawi berhasil menakut-nakuti gajah perang Kartago, sehingga hewan-hewan tersebut kabur dari medan tempur. Pada Perang Punisia Kedua, Hannibal memimpin pasukan gajah perang menyeberangi pegunungan Alpen, meskipun pada akhirnya sebagian besar gajah itu mati karena kondisi lingkungan di sana. Pasukan Romawi sendiri telah mengembangkan taktik anti-gajah perang, yang berujung pada kemenangan Romawi atas Hannibal dalam Pertempuran Zama pada 202 SM. Ketika itu gajah perang Hannibal menjadi tidak efektif karena begitu disiplinnya pasukan manipulus Romawi, yang membiarkan gajah perang Hannibal lewat begitu saja.
[sunting]Romawi
Pada akhir Perang Punisia, Romawi mengambil banyak gajah perang Kartago dan menggunakannya untuk keperluan militer mereka sendiri. Ketika menaklukan Yunani, Romawi mulai mengerahkan pasukan gajah perang, termasuk di antaranya pada Invasi Makedonia pada 199 SM, Pertempuran Kinoskefalai pada 197 SM,[25] pertempuran Thermopilai,[26] dan Pertempuran Magnesia pada 190 SM, saat lima puluh gajah perang Antiokhos III menghadapi enam belas gajah perang Romawi. Bertahun-tahun kemudian, Romawi mengerahkan dua puluh dua gajah perang dalam Pertempuran Pidna pada 168 SM.[27] Gajah perang juga digunakan oleh Romawi dalam kampanye militer melawan bangsa Keltiberia dan Galia. Yang paling terkenal adalah ketika Romawi menggunakan gajah perang dalam Invasi Britania. Satu penulis kuno menyebutkan bahwa "Caesar memiliki seekor gajah yang besar, yang dilengkapi dengan baju perang dan membawa menara kecil, yang ditempati oleh pemanah dan pelempar batu. Ketika hewan tak dikenal ini menyeberangi sungai, pasukan Briton dan kuda-kuda mereka kabur melarikan diri.'[28] Akan tetapi, dia mungkin salah membedakan gajah tersebut dengan gajah serupa yang digunakan pada penaklukan terakhir Britania oleh Claudius. Setidaknya satu kerangka gajah dengan senjata batu api ditemukan di Inggris dan awalnya dikira sebagai gajah Romawi, meskipun kemudian terbukti sebagai kerangka mammoth dari Zaman batu.[29]
Pada masa Claudius, penggunaan gajah perang mulai berkurang. Penggunaan terakhir gajah perang yang signifikan di Mediterania terjadi dalam Pertempuran Thapsus, 46 SM. Ketika itu Julius Caesar mempersenjatai legion kelimanya (Alaudae) dengan kapak dan dia memerintahkan pasukannya untuk menyerang kaki gajah perang yang dikerahkan oleh Romawi. Pasukan Caesar pun meraih kemenangan. Pertempuran Thapsus merupakan penggunaan terakhir gajah perang yang signifikan di Romawi.[30]


Ilustrasi Abad Pertengahan dari Armenia, menggambarkan gajah perang kekaisaran Sassaniyah dalam Pertempuran Vartanantz.
[sunting]Sassaniyah
Kekaisaran Parthia di Persia beberapa kali menggunakan gajah perang dalam perang melawan Kekaisaran Romawi. Sementara di Kekaisaran Sassaniyah, yang merupakan penerus Kekaisaran Parthia, gajah perang merupakan komponen militer yang penting.[31] Kekaisaran Sassaniyah mengerahkan gajah perang dalam kampanye-kampanye militer mereka melawan musuh-musuh di barat. Salah satu konflik yang terkenal adalah Pertempuran Vartanantz pada 451 M, saat gajah perang Sassaniyah berhasil menakut-nakuti pasukan Armenia. Contoh lainnya adalah Pertempuran al-Qādisiyyah pada 636 M, saat tiga puluh tiga gajah perang dikerahkan oleh Kekaisaran Sassaniyah untuk melawan pasukan Arab. Pasukan gajah Sassaniyah memegang keunggulan dibandingkan pasukan kavaleri Sassaniyah. Pasukan Sassaniyah memperoleh gajah dengan cara memasoknya dari India. Pasukan gajah perang Sassaniyah dipimpin oleh seorang pejabat yang disebut Zend−hapet, atau "Komandan India", entah karena gajahnya memang didapat dari India atau karena gajah-gajah itu diurus oleh orang Hindustan asli.[32] Pasukan gajah Sassaniyah tidak pernah sekuat pasukan gajah India dan setelah Kekaisaran Sassaniyah runtuh, penggunaan gajah perang di daerah ini juga berhenti.
[sunting]Timur Jauh
Di Cina, penggunaan gajah perang agak jarang dibandingkan dengan di lokasi lainnya.[33][34] Menurut catatan tertua yang pernah ditemukan, gajah perang digunakan pada 554 M, ketika Dinasti Wei Barat mengerahkan dua ekor gajah berbaju perang dari Lingnan ke medan tempur dengan dipandu oleh budak-budak Melayu dan dilengkapi dengan menara kayu serta pedang yang diikatkan ke belalai mereka.[33] Gajah-gajah itu berhasil dihalau oleh para pemanah.[33]
Dinasti Han pada abad kedua SM berperang dengan kerajaan Yue dari Asia Tenggara yang menggunakan gajah perang. Taktik yang digunakan untuk menghalau gajah-gajah perang tersebut di antaranya adalah dengan menggunakan api dan panah busur silang yang sangat banyak di samping menggali lubang dan parit yang diisi dengan tombak.
Di Asia Tenggara, di sepanjang perbatasan Vietnam modern, pasukan Champa mengerahkan sampai 602 ekor gajah perang melawan Dinasti Sui.[35] Pasukan Sui mengalahkan gajah-gajah perang itu dengan membuat perangkap berupa lubang-lubang, selain itu mereka juga menggunakan banyak busur silang.[35]
[sunting]Sri Lanka
Catatan sejarah Sri Lanka mengindikasikan penggunaan gajah sebagai kendaraan yang dinaiki oleh raja ketika sedang memimpin pasukan dalam pertempuran,[36] dan beberapa gajah tercatat dalam sejarah. Gajah Kandula merupakan kendaraan raja Dutugamunu, sedangkan Maha Pambata, "Batu Besar", adalah kendaraan raja Elara dalam pertempuran pada 200 SM.[37]
[sunting]Abad Pertengahan


Sebuah lukisan bergaya Romawi yang menggambarkan gajah perang. Spanyol, abad kesebelas Masehi.
[sunting]Eropa
Pada Abad Pertengahan, gajah perang jarang digunakan di Eropa. Karel yang Agung menggunakan gajahnya, yang bernama Abul-Abbas, ketika dia berperang dengan pasukan Denmark pada 804 Masehi.[38] Prajurit Perang Salib memberi kesempatan pada Kaisar Romawi Suci Frederick II untuk menangkap gajah di Tanah Suci. Gajah juga digunakan dalam penaklukan kota Cremona pada 1214. Akan tetapi, pada masa ini penggunaan gajah dalam perang lebih bersifat simbolis ketimbang praktis.
[sunting]Asia Tengah
Lebih jauh ke timur, gajah masih tetap digunakan dalam peperangan. Pasukan Mongol berhadapan dengan gajah perang di Khorazm, Burma, Vietnam dan India pada abad ke-13 M.[39] Meskipun mengalami kegagalan dalam invasi mereka ke Vietnam, dan India, pasukan Mongol berhasil mengalahkan gajah perang di luar Samarkand dengan menggunakan katapel dan mangonel, sedangkan di Burma, pasukan Mongol menghujani gajah perang dengan panah dari busur campur mereka yang terkenal.[40] Genghis Khan dan Kublai Khan sama-sama mengambil gajah perang yang mereka tangkap untuk kemudian dimasukkan ke dalam pasukan Mongol.[41] Satu abad kemudian, penakluk lainnya dari Asia Tengah, Timur Lenk juga menghadapi pasukan gajah perang. Pada 1398, pasukan Timur berhadapan dengan lebih dari seratus ekor gajah India dalam suatu pertempuran. Gajah-gajah tersebut memicu ketakutan pada pasukan Timur dan hampir menyebabkan pasukannya kalah. Timur akhirnya bisa menang dengan menerapkan strategi khusus. Dia mengikatkan jerami yang terbakar di punggung pasukan untanya. Asapnya membuat unta-untanya berlari dan membuat gajah-gajah musuh ketakutan. Gajah-gajah itu pun mencoba kabur dan malah menginjak-injak pasukan mereka sendiri. Catatan sejarah lainnya menceritakan bahwa Timur menggunakan galtrop berukuran besar untuk menghentikan pergerakan pasukan gajah musuh.[42] Di kemudian hari, para pemimpin Dinasti Timuriyah menggunakan gajah tangkapan untuk menghadapi pasukan Kesultanan Utsmaniyah.
[sunting]Sri Lanka
Raja Rajasinghe I mengerahkan pasukan gajah berjumlah 2.200 ekor gajah perang ketika dia mengepung benteng Portugis di Colombo, Sri Lanka pada 1558.[43] Rakyat Sri Lanka sendiri tetap meneruskan tradisi mereka dalam menangkap dan melatih gajah yang sudah dilakukan sejak masa kuno. Pejabat yang bertanggung jawab dalam hal penangkapan dan pengelolaan gajah disebut Gajanayake Nilame,[43] sedangkan pejabat yang disebut Kuruve Lekham bertugas mengatur Kuruwe atau prajurit penunggang gajah.[43] Sementara itu, pelatihan gajah perang merupakan tugas klan Kuruwe yang berada di bawah wewenang Muhandiram (pos administratif Sri Lanka) mereka sendiri.


Pasukan Kerajaan Khmer dengan gajah perangnya melawan pasukan Cham pada abad ke-12. Relief di kuil Bayon di Angkor, Kamboja.


"Pertempuran Besar Yuthahatthi" - Raja Siam, Naresuan, bertarung dengan putra mahkota Burma di dekat Suphanburi pada Janauri 1593. Patung di Muang Boraan, provinsi Samut Prakan, Thailand.
[sunting]Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, Kerajaan Khmer berhasil menjadi kekuatan yang disegani pada abad kesembilan Masehi terutama berkat penggunaan gajah perang. Militer Khmer menempatkan busur-silang ganda di atas gajah perang mereka. Setelah jatuhnya kekuasaan Khmer pada abad kelima belas, kekuasaan penerusnya, yaitu Burma (kini Myanmar) dan Siam (kini Thailand), juga mengadopsi penggunaan gajah dalam peperangan. Dalam banyak pertempuran, para pemimpin pasukan biasanya bertarung di atas gajah perang mereka. Salah satu pertempuran yang terkenal adalah ketika pasukan Burma menyerang Kerajaan Ayutthaya di Siam. Puncak pertempuran tersebut terjadi ketika putra mahkota Burma, Minchit Sra, dibunuh oleh raja Siam, Naresuan, dalam pertarungan di atas gajah pada 1593.
[sunting]Cina
Bangsa Cina secara umum sangat jarang menggunakan gajah perang. Salah satu pengecualian terjadi pada abad ke-10, ketika Han Selatan menggunakan gajah ketika berperang. Karena itu Han Selatan disebut sebagai "satu-satunya bangsa di daratan Cina yang pernah menggunakan gajah sebagai bagian dari pasukan regulernya".[33] Anomali ini terjadi karena adanya kedekatan geografis dan kultural antara Han Selatan dengan Asia Tenggara.[33] Pejabat militer yang bertugas memimpin pasukan gajah disebut Wakil Digitan dan Agitan Gajah Raksasa.[44] Setiap gajah membawa menara kecil yang bisa menampung sepuluh prajurit atau lebih.[45] Selama beberapa waktu, gajah perang memainkan peranan penting dalam beberapa kemenangan Han Selatan, misalnya dalam invasi Chu pada 948 M.[45] Akan tetapi, pasukan gajah Han Selatan pada akhirnya dikalahkan secara telak di Shao pada 971 M. Ketika itu gajah perang Han Selatan diserang dengan busur silang api oleh pasukan Dinasti Song.[45] Setelah itu, penggunaan gajah perang di Cina mulai dihentikan."[45]
[sunting]Masa modern


Gajah Siam yang digunakan untuk mengangkut artileri ringan di Laos pada 1893
Dengan munculnya bubuk mesiu pada akhir abad ke-15, posisi gajah dalam perang pun mulai berubah. Senapan lontak tidak terlalu berpengaruh pada gajah yang mampu menahan banyak tembakan.[46] Namun, tembakan meriam adalah sesuatu yang sangat berbeda. Seekor gajah dapat dengan mudah dirobohkan hanya dengan satu tembakan meriam. Dengan gajah yang masih digunakan untuk membawa komandan dalam pertempuran, mereka menjadi target yang menggiurkan bagi artileri musuh.
Meskipun demikian, di Asia Tenggara, gajah perang masih terus digunakan sampai akhir abad kesembilan belas. Salah satu kesulitan utama di kawasan ini adalah keadaan medan geografisnya dan gajah bisa melewati daerah yang sulit dengan lebih mudah dibandingkan jika menggunakan kavaleri kuda. Tentara Siam memanfaatkan gajah perang yang dipersenjatai dengan jingal sampai Perang Perancis-Siam pada 1893, sedangkan Vietnam menggunakan gajah perang sampai sekitar tahun 1885, ketika terjadi Perang Sino-Perancis.


Selama Perang Dunia I, gajah digunakan untuk menarik pelengkapan berat. Gajah ini menarik amunisi di Sheffield.
Memasuki abad dua puluh, gajah yang tak dilatih bertempur digunakan untuk tujuan militer sampai Perang Dunia II,[47] terutama karena hewan ini mampu berjalan di daerah-daerah yang sulit dilalui oleh kendaraan modern.
Bagi banyak pasukan di negara-negara gagal, gajah kini lebih berharga untuk diambil gadingnya daripada fungsinya sebagai kendaraan. Ribuan gajah mati dalam perang saudara karena perburuan ilegal. Gajah digolongkan sebagai hewan pikul dalam manual lapangan Pasukan Khusus Amerika Serikat yang diterbitkan pada 2004, namun penggunaan gajah oleh personel Amerika Serikat tidak dianjurkan karena gajah merupakan spesies yang terancam punah.[48] Catatan terakhir mengenai penggunaan gajah dalam perang terjadi pada 1987 ketika Irak diduga menggunakan gajah untuk mengangkut persenjataan berat untuk digunakan di Kirkuk.

Rabu, 23 Maret 2011

NAZI


Nazi, atau secara resmi Nasional Sosialisme (Jerman: Nationalsozialismus), merujuk pada sebuah ideologi totalitarian Partai Nazi (Partai Pekerja Nasional-Sosialis Jerman, Jerman: Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP) di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Kata ini juga merujuk pada kebijakan yang dianut oleh pemerintahan Jerman pada tahun 1933—1945, sebuah periode yang kemudian dikenal sebagai Jerman Nazi atau Reich Ketiga. Kata Nazi jadi merupakan singkatan Nasional Sosialisme atau Nationalsozialismus di bahasa Jerman. Sampai hari ini orang-orang yang berhaluan ekstrim kanan dan rasisme sering disebut sebagai Neonazi (neo = "baru" dalam bahasa Yunani).

Partai yang semula bernama Partai Pekerja Jerman (DAP) ini didirikan pada tanggal 5 Januari 1919 oleh Anton Drexler.[1][2] Hitler kemudian bergabung dengan partai kecil ini pada bulan September 1919,,[2][3] dan menjadi pemimpin propaganda, mengubah nama partai itu (1 April 1920),[4][5] dan menjadi pemimpin partai pada tanggal 29 Juli 1921.[5][2]

Nazisme bukanlah sebuah ideologi baru, melainkan sebuah kombinasi dari berbagai ideologi dan kelompok yang memiliki kesamaan pendapat tentang penentangan Perjanjian Versailes dan kebencian terhadap Yahudi dan Komunis yang dipercaya berada di balik perjanjian tersebut.
Pengurus:
A
Gunter d'Alquen
Ludolf von Alvensleben
Max Amann
Benno von Arent
Heinz Auerswald
Hans Aumeier
Artur Axmann

B
Erich von dem Bach-Zelewski
Herbert Backe
Richard Baer
Alfred Baeumler
Gottlob Berger
Werner Best
Hans Biebow
Paul Blobel
Werner von Blomberg
Hans-Friedrich Blunck
Josef Blösche
Horst Böhme
Ernst Boepple
Ernst Wilhelm Bohle
Martin Bormann
Philipp Bouhler
Viktor Brack
Karl Brandt
Alois Brunner
Walter Buch
Karl Buck
Josef Bürckel
Anton Burger

C
Werner Catel
Heinrich Claß
Carl Clauberg
Leonardo Conti

D
Kurt Daluege
Richard Walther Darré
Josef "Sepp" Dietrich
Otto Dietrich
Oskar Dirlewanger
Horst Dressler-Andress
Anton Drexler
Eduard Dietl
Karl Donitz

E
Irmfried Eberl
Adolf Eichmann
Theodor Eicke
August Eigruber
Hermann Esser
Richard Euringer
Eva Braun
Erwin Rommell

F
Karl Fiehler
Ludwig Fischer
Albert Förster
Hans Frank
Karl Hermann Frank
Roland Freisler
Wilhelm Frick
Hans Fritzsche
Walther Funk

G
Karl Gebhardt
Achim Gercke
Kurt Gerstein
Odilo Globocnik
Richard Glücks
Joseph Goebbels
Wilhelm Göcke
Hermann Göring
Amon Goeth
Ulrich Greifelt
Robert Ritter von Greim
Arthur Greiser
Wilhelm Grimm
Joseph Grohé
Walter Groß
Kurt Gruber
Hans Günther (jangan dikelirukan dengan Hans Friedrich Karl Günther)
Franz Gürtner

H
Eugen Hadamovsky
Ernst Hanfstaengl
Karl Hanke
Fritz Hartjenstein
Paul Hausser
Franz Hayler
Heinrich Heim
August Heißmeyer
Otto Herzog
Rudolf Heß (jangan dikelirukan dengan Rudolf Höß)
Walther Hewel
Werner Heyde
Reinhard Heydrich
Konstantin Hierl
Erich Hilgenfeldt
Heinrich Himmler
Hans Hinkel
August Hirt
Adolf Hitler
Hermann Höfle
Rudolf Höß (jangan dikelirukan dengan Rudolf Heß)
Franz Hofer

I
Arthur Seyss-Inquart

J
Karl Jäger
Ernst Jarosch
Friedrich Jeckeln
Alfred Jodl
Hanns Johst
Hans Jüttner
Rudolf Jung

K
Ernst Kaltenbrunner
Karoly Kampmann
Karl Kaufmann
Wilhelm Keitel
Wilhelm Keppler
Hanns Kerrl
Dietrich Klagges
Wilhelm Kleinmann
Helmut Knochen
Erich Koch
Ilse Koch
Karl Otto Koch
Max Koegel
Franz Konrad
Wilhelm Koppe
Josef Kramer
Fritz Krebs
Bernhard Krüger
Friedrich Wilhelm Krüger
Gustav Krupp von Bohlen und Halbach

L
Hans Lammers
Herbert Lange
Adolf Lenk
Robert Ley
Arthur Liebehenschel
Julius Lippert
Michael Lippert
Dietrich Loder
Wilhelm Loeper
Georg Lörner
Hinrich Lohse
Werner von Lorenz
Hanns Ludin
Martin Luther
Viktor Lutze

M
Emile Maurice
Kurt Mayer
Herbert Mehlborn
Josef Mengele
Alfred Meyer
Konrad Meyer
Kurt Meyer
Heinrich Müller
Eugen Mündler
Hasso von Manteuffel

N
Alfred Naujoks
Arthur Nebe
Hermann Neef
Karl Neuhaus
Konstantin Freiherr von Neurath

O
Herta Oberheuser
Otto Ohlendorf

P
Helmuth von Pannwitz
Otto Paul
Joachim Peiper
Salomon Franz von Pfeffer
Henry Picker
Paul Pleiger
Oswald Pohl
Franz von Pfeffer
Erich Priebke
Hans-Adolf Prützmann
Franz von Papen

R
Karl Rahm
Rudolf Rahn
Friedrich Rainer
Erich Rajakowitsch
Sigmund Rascher
Walther Rauff
Hermann Rauschning
Hanns Rauter
Walter Reder
Wilhelm Reinhard
Fritz Reinhardt
Adrian von Renteln
Joachim von Ribbentrop
Rolf Rienhardt
Ernst Röhm
Erwin Rösener
Alfred Rosenberg
Wilhelm Ruder
Ernst Rudin
Bernhard Rust
Erwin Rommel

S
Fritz Sauckel
Hjalmar Schacht
Emanuel Schaefer
Paul Schäfer
Gustav Adolf Scheel
Walther Schellenberg
Hans Schemm
Wilhelm Schepmann
Baldur von Schirach
Franz Schlegelberger
Albrecht Schmelt
Carl Schmitt
Kurt Schmitt
Paul Schmitthenner
Gertrud Scholtz-Klink
Kurt Freiherr von Schröder
Walther Schultze
Arthur Schürmann
Franz Xaver Schwarz
Heinrich Schwarz
Siegfried Seidl
Franz Seldte
Arthur Seyß-Inquart
Gustav Simon
Albert Speer
Walter Stang
Franz Stangl
Johannes Stark
Otto Steinbrink
Gregor Straßer
Otto Straßer
Julius Streicher
Jürgen Stroop
Otto von Stulpnagel
Friedrich Syrup

T
Josef Terboven
Otto Thierack
Fritz Todt
Hans Trummler
Hans von Tschammer und Osten
Jacob von Schultz

V
Xavier Vallat
Albert Vögler
Hermann Voß

W
Hilmar Wäckerle
Otto Wagener
Adolf Wagner
Gerhard Wagner
Josef Wagner
Robert Heinrich Wagner
Kurt Waldheim
Christian Weber
Wilhelm Weiß
Horst Wessel
Robert Wetzel
Max Winkler
Giselher Wirsing
Christian Wirth
Hermann Wirth
Karl Wolff


Z
Adolf Ziegler
Matthes Ziegler
Wilhelm Ziegler
Hans Zöberlein
Franz Ziereis